MAMAN SUHERMAN, S.Pd. (MS)
Kamis, 17 Oktober 2013
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI MELALUI PENGGUNAAN METODE KOLABORATIF PADA SISWA KELAS III SD NEGERI 1 MEKARSARI, KECAMATAN CIMERAK, KABUPATEN CIAMIS TAHUN PELAJARAN 2009/2010
A.
Judul
PENINGKATAN
AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR DALAM
PEMBELAJARAN MENULIS PUISI MELALUI PENGGUNAAN METODE KOLABORATIF PADA SISWA
KELAS III SD NEGERI 1 MEKARSARI, KECAMATAN CIMERAK, KABUPATEN CIAMIS TAHUN
PELAJARAN 2009/2010
B.
Nama Penulis
Maman Suherman,
S.Pd.
C.
Abstrak dan Kata Kunci
ABSTRAK
Kata Kunci:
Menulis Puisi Bebas, Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa, dan Metode Kolaboratif
Penelitian ini
dilakukan dalam rangka memperbaiki kinerja guru dan siswa dalam pembelajaran
menulis puisi menlalui penggunaan metode kolaboratif.Diharapkan melalui
penggunaan metode tersebut tujuan pembelajaran menulis dapat dicapai oleh
seluruh siswa kelas III SD Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamis, Tahun Pelajaran 2009/2010.Waktu pelaksanaannya, sesuai dengan kalender
akademik di sekolah, agar tidak mengganggu jalannya aktivitas KBM.Rancangan
penelitian yang ditempuh, yakni penelitian tindakan kelas, yang terdiri atas
empat tahapan, yakni membuat perencanaan tindakan, melaksanakan tindakan dalam
pembelajaran, mengobservasi tindakan, dan merefleksi tindakan.Penelitian
tersebut dilaksanakan dalam tiga siklus.Adapun data penelitian ini, meliputi
catatan lapangan, catatan hasil pengamatan, dokumentasi perencanaan, dan hasil
evaluasi.Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara,
dokumentasi, tes, dan diskusi. Teknik analisis data menggunakan teknik
kualitatif model mengalir, meliputi tahap reduksi data, pemaparan data,
verifikasi, dan penyimpulan data. Untuk menguji keabsahan data dilakukan
pengecekatan ulang (triangulasi) dengan kolabolator dan siswa.Setelah
menyelesaikan penelitian ini, diperoleh simpulan sebagai berikut.
1. Penggunaan metode kolaborasi dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran menulis puisi bebas.
2. Penggunaan metode kolaborasi dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis puisi bebas.
D.
Pendahuluan
a.
Latar belakang Masalah
Pembelajaran sastra di sekolah-sekolah bertujuan untuk memperhalus
budi pekerti siswa, seperti ditegaskan dalam kurikulum yang berlaku saat ini.
Hal ini sebagaimana ditegaskan Rusyana
(1987:132), bahwa
“Pembelajaran sastra di sekolah perlu
terus-menerusditingkatkan
agar semakin hari makin memperhalus budi pekerti siswa, yang disajikan melalui
pembelajaran keterampilan
berbahasa
(mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis).
Salah
satu dari tuntutan pembelajaran sastra di kelas III yang belum dapat dipenuhi
dengan baik, khususnya oleh siswa kelas III SD Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan
Cimerak, Kabupaten Ciamis pada tahun pelajaran 2009/2010, yaitu menulis puisi.
Dari 31 orang siswa, baru dikatehui 8 orang siswa yang mampu memenuhi tuntutan
pembelajaran menulis puisi bebas.Kemampuan dimaksud, yakni “Menulis puisi anak berdasarkan gambar” (BSNP, 2006:30).
Berdasarkan hasil refleksi awal, saat proses
pembelajaran menulis puisi sedang berlangsung, siswa tampak kurang aktif
meresfon setiap tuntutan, yaknibelajar menentukan
gagasan pokok berdasarkan pengalaman,
dan menulis puisi berdasarkan gagasan pokok dengan
menggunakan pilihan kata yang tepat.Selain
itu, antarsiswa tidak terjadi saling belajar memberi dan menerima masukan yang
positif dalam membangun pengetahuan tentang kompetensi yang sedang
dipelajari.Siswa enggan bertanya jawab sehubungan dengan hal-hal yang kurang
dipahaminya dalam memenuhi tuntutan pembelajaran.Hal ini sangat disadari karena
pengelolaan pembelajaran kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih
banyak berbuat daripada duduk, dengar, catat, dan hafalkan (DDCH).Itu sebabnya,
pada siswa dituntut memenuhi hal yang sebenarnya kurang mampu. Atas dasar itu,
yang telah mendorong kepada penulis untuk mengadakan penelitian tindakan kelas
dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas III SD Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan
Cimerak, Kabupaten Ciamis pada tahun pelajaran 2009/2010.
b.
Identifikasi
Masalah, Rumusan Masalah, dan Pemecahan Masalah
a) Identifikasi
Masalah
Dari uraian latar belakang masalah di atas, dapat
diidentifikasi adanya permasalahan sebagai berikut.
1.
Pembelajaran menulis
puisi pada siswa kelas III SD Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamis pada tahun pelajaran 2009/2010, tidak berlangsung dalam kondisi yang
diharapkan, yakni mengaktifkan, mengkreatifkan, menyenangkan, dan
memberhasilkan seluruh siswa di kelas ini.
2.
Antarsiswa tidak
terjadi saling belajar memberi dan menerima masukan yang positif untuk
membangun pengetahuan yang sangat diperlukan dalam memenuhi tuntutan
pembelajaran.
3.
Siswa tidak
memiliki keberanian untuk bertanya kepada guru, sehubungan dengan materi
pembelajaran yang kurang dipahaminya.
4.
Fokus
pembelajaran yang seharusnya pada proses belajar siswa, yang dilakukan guru
justeru lebih pada tersampaikannya materi pembelajaran kepada siswa sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan.
5.
Belum ditemukan
metode yang tepat untuk membelajarkan siswa dalam memenuhi setiap tuntutan pembelajaran
menulis puisi.
6.
Pembelajaran
menulis puisi, tidak berlangsung kondusif, karena pengelolaan masih bersifat
monoton.
7.
Sebagian besar
siswa kurang berhasil mencapai kriteria ketuntasan minimal.
b) Rumusan Masalah
Berdasarkan
identifikasi masalah di atas, apa yang menjadi pokok masalah dalam penelitian
ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1.
Bagaimana langkah-langkah menggunakan metode kolaboratif untuk meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran menulis puisi?
2.
Apakah penggunaan metode kolaboratif dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis puisi?
c)
Pemecahan
Masalah
Untuk
mengatasi masalah yang dihadapi guru dan siswa kelas III SD Negeri 1 Mekarsari,
Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis dalam pembelajaran menulis puisi,
diupayakan solusinya, yaitu metode kolaborasi. Penggunaan metode ini diharapkan
dapat memperbaiki kinerja guru dan siswa.Solusi ini ditempuh melalui prosedur
penelitian tindakan kelas yang direncanakan dalam tiga siklus.
d) Tujuan Penelitian
Penelitian ini tidak
lepas dari tujuan, yakni sebagai berikut.
1.
Untuk
meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran menulis puisi, agar aktif, kreatif,
efektif, dan menyenangkan.
2.
Untuk
meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis puisi, agar dapat
mencapai kriteria ketuntasan minimal yang telah ditentukan.
3.
Meningkatkan
kinerja guru dalam mengelola pembelajaran menulis puisi, agar tidak monoton dan
terfokus pada proses belajar siswa secara aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan.
E.
Kajian Teori
1.
Menulis Puisi
a.
Arti Menulis Puisi
Menulis puisi bebas berbeda dengan menulis
puisi terikat. Perbedaan ini dapat diketahui dari penjelasan Nababan
(2008:196), yang dikutip berikut “Puisi terikat, artinya puisi yang terikat
oleh aturan bait dan baris. Sedang puisi bebas, artinya puisi yang tidak
terikat oleh aturan bait, baris, maupun rima”.
Adapun isi puisi bebas dapat dibedakan atas romansa, elegi, ode, himne,
epigram, satire, dan balada (Nababan, 2008:197). Contoh puisi bebas, di
antaranya puisi karya Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, dan Sapardi Djoko
Damono. Salah satu puisi hasil karya penyair tersebut, di antaranya tertulis
berikut.
Tragedi
Winka dan Sihka
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Ka
win
Ka
win
Ka
win
Ka
win
Ka
winka
winka
winka
sihka
sihka
sihka
sih
Ka
sih
Ka
sih
Ka
sih
Ka
sih
sih
sih
sih
ka
Ku
(Sutardji Calzoum Bachri, 1983)
Pada contoh puisi di
atas tampak jelas ketidakteraturan bait, baris, maupun rima. Itu sebabnya menulis
puisi seperti tidak sesulit menulis puisi terikat. Namun hal ini bukan berarti
bebas untuk tidak meresfon ciri-ciri kebahasaan puisi dan hakikat unsur-unsur
dan metode puisi. Pemahaman terhadap hal-hal ini penting agar diperoleh puisi
yang diinginkan, termasuk dalam menulis puisi bebas.
b.
Ciri-ciri Puisi
(Terikat atau Bebas) Ditinjau dari Segi Kebahasaan
Ciri suatu puisi, baik terikat
maupun bebas, diantaranya dibangun dengan unsur kebahasaan yang khas,
sebagaimana dijelaskan Nababan (2008:197), bahwa “Ditinjau dari segi kebahasaannya,
puisi mempunyai ciri-ciri yang sudah tentu, antara lain : (1) pemadatan bahasa;
(2) pemilihan kata khas atau kata berlambang; (3) kata konkret; (4)
pengimajian; (5) irama; dan (6) tata wajah”. Adapun deskripsi dari ciri
tersebut, sebagai berikut.
Pemadatan bahasa
Contoh :
Rasa cemburu seseorang
karena dikhianati sang kekasih membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya.
Untaian kata di atas
dapat didapatkan dalam satu kata, seperti marah, benci, atau cemburu. Tidak
perlu ditulis dalam beberapa kata secara berlebihan. Cukup dengan memilih salah
satu kata itu sesuatu yang dirasakan tersampaikan secara unik dan menarik.
1)
Pemilihan kata khas
atau kata berlambang
Ketentuan lain, bahasa
puisi dibangun oleh pilihan kata yang khas atau kata berlambang. Kata-kata yang
terpilih tersebut untuk melambangkan sesuatu yang mirip sifatnya. Contoh, bunga,
melambangkan kecantikan gadis. Contoh lain, api, melambangkan kemarahan,
dan baja, melambangkan kekuatan.
2)
Kata konkret
Kata konkret maksudnya kata-kata yang
dipilih menggambarkan sesuatu secara konkret. Contoh, kuku besi untuk
mengonkretkan kaki kuda yang bersepatu besi. Contoh lain, kaki bumi
untuk mengonkretkan kuda yang menapaki jalan tidak beraspal.
3)
Pengimajian
Pengimajian berarti penggambaran sesuatu
seolah-olah dapat dilihat oleh mata pembaca. Contoh, ia dengar kepak sayap
kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun karena angin pada kemuning.
Pengimajian seperti ini termasuk dalam ungkapan imaji auditif (pendengaran), sehingga
pembaca seolah-olah mendengarkan suara yang digambarkan oleh penyair.
4)
Irama (ritme)
Irama (ritme)
berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frase,
dan kalimat. Contoh,
Pagiku hilang/sudah
melayang
Hari mudaku/telah pergi
Kini petang/datang
membayang
Batang usiaku/sudah
tinggi
(Menyesal, Ali Hasjmi)
5)
Tata wajah
Tata wajah berarti puisi yang ditulis
menampilkan sebuah gambaran yang dapat mewakili maksud tertentu. Contoh,
seperti pada kutipan puisi Tragedi Winka dan Sihka karya Sutardji Calzoum Bachri.
Mulai dari judul puisi hingga baris akhir, ditata sedemikian rupa, karena itu
tampak suatu gambaran dengan maksud yang sudah tentu dapat mewakili apa yang
ingin disampaikannya kepada pembaca.
b.
Unsur-unsur yang
Terkandung di Dalam
Puisi
Sekurang-kurangnya tiga
unsur berikut harus diperhatikan dengan benar ketika menulis puisi. Ketiga
unsur yang dimaksud, antara lain “(1) tema puisi; (2) suasana puisi; dan(3)
amanat puisi” (Nababan, 2008:198). Inti ketiga unsur tersebut terdeskripsikan berikut.
1)
Tema puisi
Tema adalah gagasan
pokok yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Menurut Nababan
(2008:198),”Tema dapat berupa masalah perjuangan, kepahlawanan, kekecewaan,
kemunafikan, penderitaan, percintaan, keagamaan, dan lain-lain”. Contoh,
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pepohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut
Segala menanti. Menanti. Menanti
(Deru Campur Debu, Chairil Anwar)
Tema puisi di atas
adalah perasaan seseorang, hal tersebut diungkapkan dengan pohon yang lurus
kaku, tidak bergerak sampai ke puncak. Puisi tersebut juga menggambarkan
perasaan sepi yang dirasakan seseorang sewaktu menantikan sesuatu, tetapi dalam
penantian yang tidak kunjung datang.
2)
Suasana puisi
Suasana puisi ialah
suasana yang menyertai kejadian, peristiwa, atau hal-hal lain yang ingin
diungkapkan dalam puisi. Misalnya, suasana gembira, bahagia, sedih, haru,
kecewa, dan lain-lain. Contohnya, seperti dalam puisi yang dikutip berikut.
Aku
Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan syarat yang tak sempat
disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya
tiada
(Supardi Djoko Damono)
Suasana dalam puisi di
atas adalah haru dan romantis. Hal ini dapat diketahui dalam bait pertama dan
bait kedua pada larik pertama, yaitu menginginkan cinta itu melalui proses yang
sederhana.
3)
Amanat puisi
Amanat puisi adalah
pesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi. Contoh,
Dari Seorang Guru
kepada Murid-muridnya
Adalah yang kupunya
anak-anakku
Selain buku-buku dan
sedikit ilmu
Sumber pengabdian
kepadamu
Kalau hari tunggu
engkau datang ke rumahku
Aku takut anak-anakku
Kursi-kursi tua yang di
sana
Dan meja tulis
sederhana
Dan jendela-jendela
yang tak pernah diganti kainnya
Semua kepadamu akan
bercerita
Tentang hidupku di
rumah tangga
(Hartoyo Andangjaya)
Tema puisi di atas
adalah kritik sosial terhadap pemerintah yang tidak memperhatikan nasib guru.
Puisi tersebut mengandung amanat, antara lain: (1) perbaikilah nasib guru; (2)
hormatilah guru yang hidup menderita, tetapi tetap berbakti dengan penuh
semangat; dan (3) jangan menilai guru dari harta materi, tetapi dari
keseluruhan martabatnya.
2.
Metode Kolaborasi
dalam Pembelajaran Menulis Puisi
di Sekolah Dasar
a.
Pengertian Metode Kolaborasi
Pembelajaran menulis puisi
berdasarkan teknik kolaborasi diilhami oleh pendapat Alwasilah (2005:25) yang
mengemukakan sebagai berikut. “Shalat berjamaah – demikian kata Nabi – dua
puluh tujuh kali lebih baik dari pada shalat menyendiri. Pahalanya pun jauh
lebih besar. Karena itu lakukanlah shalat secara berjamaah di tempat yang
mulia. Demikian pula menulis”. Adapun alasan-alasan lain, dijelaskan Alwasilah
(2005:25), sebagai berikut.
1)
Dalam berjamaah (berkolaborasi)
selalu ada imam atau seseorang yang dianggap paling senior yang bertindak
sebagai model. Guru adalah imam, yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam
menulis.
2)
Kolaborasi adalah ajang
bertegur sapa dan bersilaturahmi ilmu pengetahuan. Disitu ada pembelajaran
berjamaah (social learning). Salah satu prinsipnya adalah, bahwa setiap
orang memiliki kelebihan tersendiri.
3)
Imam – pun jika keliru
– harus diperingatkan dengan santun. Jadi saling mengingatkan dalam kolaborasi,
justru membuat anda semakin mengenal potensi diri dan membuat tulisan semakin
bernas.
4)
Dalam kolaborasi setiap
orang dibiarkan mengembangkan potensi dan kesenangannya mungkin menulis puisi,
atau artikel opini.
b. Langkah-langkah
Metode Kolaborasi
Berdasarkan uraian di atas,
Alwasilah (2005:31) memberikan ilustrasi langkah-langkah pembelajaran menulis
puisi berdasarkan metode
kolaborasi, yaitu sebagai berikut.
1)
Guru
dalam lima menit menuntut siswa berkonsentrasi untuk menemukan ide awal,
mungkin perasaan atau memori.
2)
Guru
menuntut siswa menuliskan beberapa kata atau prase yang muncul dalam pikiran
ketika mengingat objek yang menjadi fokus penulisan puisi.
3)
Guru
menuntut siswa untuk menuliskan gagasannya secara singkat dalam bentuk puisi.
4)
Guru
menyuruh siswa untuk membaca nyaring puisi yang ditulisnya.
5)
Guru
menuntut siswa agar melakukan kolaborasi dengan temannya sehubungan dengan
puisi yang ditulisnya (untuk mendapat komentar).
6)
Guru
menyuruh siswa untuk membaca komentar dan saran yang diberikan oleh teman, dan
menulis ulang kembali puisi berdasarkan komentar.
c.
Keunggulan dan Kelemahan Metode Kolaborasi
Dalam setiap metode yang digunakan, sudah tentu memiliki kekurangan dan kelebihan.
Adapun kekurangan dari metode ini
adalah sebagai berikut.
1)
Kekurangan
a)
Mungkin
terjadi pengelompokkan yang pesertanya
terdiri atas orang-orang yang
tidak tahu apa-apa sehingga kekuatan kelompok tidak seimbang.
b)
Laporan
kelompok-kelompok kecil tidak tersusun secara sistematis dan tidak terarah.
c)
Pembicaraan mungkin
dapat berbelit-belit.
d)
Membutuhkan waktu untuk
mempersiapkan masalah dan untuk
pembagian masalah itu.
2)
Keunggulan
a)
Peserta didik yang kurang biasa menyampaikan pendapat dalam
kelompok belajar, seolah-olah dipaksa
oleh situasi untuk berbicara
dalam kelompok kecil.
b)
Menumbuhkan suasana
yang akrab, penuh perhatian terhadap pendapat orang lain dan akan menyenangkan.
c)
Dapat menghimpun
berbagai pendapat tentang bagian-bagian
masalah dalam waktu singkat.
d)
Dapat digunakan bersama teknik lain, sehingga penggunaan
teknik ini dapat bervariasi.
3. Hakikat Aktivitas dan
Hasil Belajar Siswa
Pada bagian ini akan diuraikan tentang
hakikat aktivitas dan hasil belajar siswa, sebagaimana tertulis berikut.
a.
Hakikat
Aktivitas Belajar
Aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam
bentuk sikap, pikiran, perhatian, dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran
guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari
kegiatan tersebut (Kunandar, 2006:272). Peningkatan aktivitas siswa, yaitu
meningkatnya jumlah siswa yang terlibat aktif belajar, meningkatnya jumlah
siswa yang bertanya dan menjawab, meningkatnya jumlah siswa yang saling
berinteraksi membahas materi pelajaran. Metode belajar yang bersifat
partisipatoris yang dilakukan guru akan mampu membawa siswa dalam situasi yang
lebih kondusif, karena siswa lebih berperan dan lebih terbuka serta sensitif
dalam kegiatan belajar mengajar (Hermawan, 2006:78).
Menurut Kunandar (2006:272), indikator aktivitas
siswa dapat dilihat dari: (1) mayoritas siswa beraktivitas dalam pembelajaran;
(2) aktivitas pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa; dan (3) mayoritas
siswa mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam LKS melalui pembelajaran
kooperatif tipe STAD (StudentTeamsAchievementDivisons).
b. Hakikat Hasil Belajar
Menurut Sudjana (1991:45), hasil
belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat
pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis,
tes lisan, maupun tes perbuatan. Pendapat yang tidak jauh berbeda dikemukakan
Nasution (1989:112), bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu
yang belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan, tetapi juga membentuk kecakapan
dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar. Hasil belajar adalah
yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari mata
pelajaran yang berupa data kuantitatif maupun kualitatif (Hermawan, 2006:79).
Lebih lanjut dikemukakan, untuk melihat hasil belajar dilakukan suatu penilaian
terhadap siswa yang bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai
suatu materi atau belum. Penilaian merupakan upaya sistematis yang dikembangkan
oleh suatu institusi pendidikan yang ditujukan untuk menjamin tercapainya
kualitas proses pendidikan serta kualitas kemampuan peserta didik sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan.
Hasil belajar dapat dilihat dari
hasil nilai ulangan harian (formatif), nilai ulangan tengah semester
(subsumatif), dan nilai ulangan semester (sumatif). Dalam penelitian tindakan
kelas ini, yang dimaksud hasil belajar siswa adalah hasil ulangan harian yang
diperoleh siswa dalam mata pelajaran pengetahuan sosial. Ulangan harian
dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam satuan bahasan atau
kompetensi tertentu. Ulangan harian ini terdiri dari seperangkat soal yang
harus dijawab para peserta didik, dan tugas-tugas terstruktur yang berkaitan
dengan konsep yang sedang dibahas. Ulangan harian minimal dilakukan tiga kali
dalam setiap semester. Tujuan ulangan harian untuk memperbaiki modul dan
program pembelajaran serta sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan nilai
bagi para peserta didik.
4. Hipotesis Tindakan
Penelitian
tindakan kelas ini direncanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus dilaksanakan
mengikuti prosedur perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Melalui
ketiga siklus penelitian tindakan kelas tersebut, dapat diamati peningkatan
aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis puisi berdasarkan langkah-langkah metode
kolaborasi. Dengan demikian, dapat dirumuskan
hipotesis tindakan sebagai berikut.
1)
Penggunaan metode kolaborasi dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa
dalam pembelajaran menulis puisi.
2)
Penggunaan metode kolaborasi dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran
menulis puisi.
F.
Metodologi
Penelitian
a.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini, yaitusiswa kelas III SD
Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten CiamisTahun
Pelajaran 2009/2010, yang berjumlah
31 orang, yang sedang menempuh semester 1 pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
b. Tempat Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di SD Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis.Pemilihan tempat didasarkan pada tujuan, yaitu untuk memperbaiki
dan meningkatkan aktivitas serta
hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis puisi melalui penggunaan metode
kolaborasi.
c.
Waktu
Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan pada waktu
semester 2 tahun pelajaran 2009/2010.Waktu yang diperlukan lebih kurang 2 bulan,
yang terhitung sejak bulan Juli hingga bulan Agustus
2009. Waktu pelaksanaannya mengikuti jam pelajaran yang telah diagendakan
sekolah untuk mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas III pada semester ini.
d.
Siklus
PTK
Penelitian
tindakan kelas untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran menulis puisi yang diupayakan melalui penggunaan metode kolaborasi
direncanakan akan dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklusnya terdiri atas
empat tahapan, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4)
refleksi.
e.
Sumber Data
Sumber
data dalam penelitian ini, yaitu siswa, guru, dan teman sejawat.Sumber data dimaksud, lebih
jelasnyasebagai berikut.
1. Siswa
Untuk
memperoleh data tentang peningkatan aktivitas dan
hasil belajar dalam pembelajaran menulis
puisi melalui penggunaan metode kolaboratif.
2. Guru
Untuk memperoleh data proses pengelolaan pembelajaran menulis
puisi berdasarkan langkah-langkah metode kolaboratif.
3. Teman Sejawat
Teman sejawat diperlukan untuk memperoleh data
secara komprehensiftentang kinerja
guru dan siswa dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran
menulis puisi melalui penggunaan metode kolaborasi.
f.
Teknik
Pengumpulan Data
Ada
beberapa teknik yang digunakan dalam pengumpulan data
penelitian ini, seperti melalui tes,
observasi, wawancara, dan diskusi.Adapun
penggunaan teknik tersebut di lapangan, yakni sebagai berikut.
1.
Teknis tes digunakan untuk memperoleh data hasil belajar
siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan
metode kolaboratif.
2.
Teknik observasi
digunakan untuk mengumpulkan
data tentang aktivitas belajar siswa
dalam pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan metode
kolaboratif.
3.
Teknik wawancara
digunakan untuk memperoleh data
tentang tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran menulis puisi yang disajikan dengan menggunakan metode
kolaboratif.
4.
Teknik diskusi
antara guru, teman sejawat, dan kolabolator digunakan
dalam rangka merefleksi hasil siklus PTK.
g.
Alat
Pengumpulan Data
Alat pengumpul data penelitian ini
meliputi lembar tes, lembar observasi, lembar wawancara, dan lembar diskusi.
h. Teknik
Analisis Data
Data yang dikumpulkan pada setiap
kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus PTK dianalisis secara deskriptif
dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi
dalam kegiatan pembelajaran.
1.
Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan metode
kolaborasi dilakukan dengan cara menganalisis tingkat
keaktifan siswa dalam PBM. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi,
sedang, dan rendah.
2.
Hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan
menggunakan metode kolaboratif dilakukan dengan cara menganalisis
nilai rata-rata hasil ulangan
setiap siklus PTK.
Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
3.
Implementasi
pembelajaran menulis puisi yang disajikan
dengan menggunakan metode kolaboratif dilakukan dengan
cara menganalisis tingkat
keberhasilan, kemudian dikategorikan dalam klasifikasi berhasil, kurang
berhasil, dan tidak berhasil.
i.
Prosedur Penelitian
Prosedur
penelitian ini menempuh tahapan penelitian tindakan kelas, seperti telah
dikemukakan terdahulu.Jumlah siklus yang direncanakan sebanyak tiga siklus.
Dalam setiap siklusnya melalui empat tahapan, yakni: (1) perencanaan, (2)
pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Adapun gambaran dari setiap
siklusnya, sebagaimana digambarkan berikut.


j.
Indikator
Kinerja
Indikator
kinerja yang menunjukkan keberhasilan dari upaya yang telah ditempuh ini bukan
saja dilihat dari kinerjasiswa tetapi juga guru, yang nota bene
sebagai fasilitator yang sangat berpengaruh
terhadap kinerja siswa dan kinerja
komponen-komponen lainnya dalam sistem pembelajaran yang ditempuh.Adapun lebih jelasnya mengenai hal itu, seperti
dijelaskan berikut.
1. Siswa
1)
Kinerja siswa
dilihat dari aktivitas, dengan indikator: aktif, kreatif, inovatif, efektif,
dan menyenangkan.
2)
Kinerja siswa
dilihat dari hasil belajar, dengan indikator tercapainya nilai kriteria
ketuntasan minimal dan selalu meningkat dalam setiap siklusnya.
2. Guru
Kinerja
guru dilihat dari aktivitas, dengan indikator mengaktifkan, mengkreatifkan,
menginovatifkan, mengefektifkan, dan menyenangkan. Hal-hal lainnya terkait
dengan pengelolaan proses pembelajaran dilihat dari indikator perencanaan,
pelaksanaan, penilaian, dan upaya tindak lanjut.
G.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
a.
Hasil Penelitian
1.
Deskripsi Siklus I
Pembelajaran
menulis puisi yang disajikan dengan menggunakan metode
kolaboratif pada siklus I, sudah dilaksanakan tetapi kurang sesuai dengan
rencana.Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut.
1)
Sebagian siswa belum terbiasa dengan
kondisi belajar berkolaborasi.
2)
Sebagian siswa mulai terbiasa dengan kondisi belajar
berkolaborasi, meski belum sepenuhnya dipahami benar.
Untuk mengatasi masalah di atas, telah dilakukan upaya sebagai
berikut.
1)
Guru secara intensif memberi
pengertian kepada siswa mengenai proses
belajar berkolaborasi yang efektif dan efisien.
2)
Guru berusaha meningkatkan pemahaman siswa yang dinyatakan
kurang optimal melalui penjelasan singkat, namun cukup jelas.
Pada akhir siklus I dari hasil pengamatan
guru dan teman sejawat dapat disimpulkan sebagai berikut.
1)
Siswa mulai terbiasa
dengan kondisi belajar secara
kolaboratif.
2)
Siswa mulai merasa senang dengan cara belajar berdasarkan langkah-langkah
metode kolaboratif.
3)
Siswa sedikit banyaknya beroleh suatu simpulan bahwa proses pembelajaran
menulis puisi berdasarkan metode kolaboratif memiliki
langkah-langkah tersendiri, yang
membutuhkan kesungguh-sungguhan dalam menjalaninya.
Berdasarkan
hasil pengamatan dan evaluasi pembelajaran menunjukkan kondisi sebagai berikut.
1)
Hasil pengamatan terhadap aktivitas
belajar siswa selama mengikuti proses pembelajaran
menulis puisi yang disajikan dengan menggunakan metode
kolaborasi pada siklus Iseperti tertuang di tabel berikut.
Tabel 1
Perolehan Nilai Aktivitas Belajar Siswapada Siklus I
No.
|
Subjek
|
Indikator
Aktivitas Belajar
|
||||
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
||
1
|
Subjek 01
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
2
|
Subjek 02
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
3
|
Subjek 03
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
4
|
Subjek 04
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
5
|
Subjek 05
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
6
|
Subjek 06
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
7
|
Subjek 07
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
8
|
Subjek 08
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
9
|
Subjek 09
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
10
|
Subjek 10
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
11
|
Subjek 11
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
12
|
Subjek 12
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
13
|
Subjek 13
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
14
|
Subjek 14
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
15
|
Subjek 15
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
16
|
Subjek 16
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
17
|
Subjek 17
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
18
|
Subjek 18
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
19
|
Subjek 19
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
20
|
Subjek 20
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
21
|
Subjek 21
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
22
|
Subjek 22
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
23
|
Subjek 23
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
24
|
Subjek 24
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
25
|
Subjek 25
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
26
|
Subjek 26
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
27
|
Subjek 27
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
28
|
Subjek 28
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
29
|
Subjek 29
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
30
|
Subjek 30
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
31
|
Subjek 31
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
Keterangan:
A. Aktif
B. Kreatif
C. Inovatif
D. Efektif
E. Menyenangkan
1.
Kurang
2.
Cukup
2)
Hasil pengamatan terhadap aktivitas guru
dalam mengelola proses pembelajaran menulis puisi
berdasarkan langkah-langkah metode kolaborasi pada siklus I masih
tergolong rendah, seperti
tertuang pada tabel berikut. √
No.
|
Kegiatan
|
Indikator
|
Kategori
Penilaian
|
|||
TM
|
KM
|
CM
|
M
|
|||
1
|
Perencanaan
|
Merumuskan Standar Kompetensi
|
|
|
|
|
Merumuskan Kompetensi Dasar
|
|
|
|
|
||
Merumuskan Indikator Hasil Belajar
|
|
|
|
|
||
Merumuskan Tujuan Pembelajaran
|
|
|
|
|
||
Merumuskan Materi Pokok
|
|
|
|
|
||
Merumuskan Kegiatan Pembelajaran
|
|
|
|
|
||
Merumuskan Alat dan Sumber Pembelajaran
|
|
|
|
|
||
Merumuskan Penilaian Pembelajaran
|
|
|
|
|
||
2
|
Pelaksanaan
|
Membuka pelajaran
|
|
|
|
|
Menjelaskan Tujuan dan Cara Belajar Mencapainya
|
|
|
|
|
||
Memotivasi Siswa Sebelum Mengikuti Kegiatan
Pembelajaran
|
|
|
|
|
||
Mengelola Kegiatan Eksplorasi
|
|
|
|
|
||
Mengelola Kegiatan Elaborasi
|
|
|
|
|
||
Mengelola Kegiatan Konfirmasi
|
|
|
|
|
||
Memberi Simpulan
|
|
|
|
|
||
Memberikan Tindak Lanjut
|
|
|
|
|
||
Memberikan Tindak Lanjut
|
|
|
|
|
||
3
|
Evaluasi/Penilaian
|
Prosedur
|
|
|
|
|
Teknik
|
|
|
|
|
||
Bentuk
|
|
|
|
|
||
Soal
|
|
|
|
|
3)
Hasil evaluasi siklus I menunjukkan kemampaun siswa
dalam memenuhi setiap tuntutan pembelajaran dinilai masih
tergolong kurang. Hal ini terbukti
dari masih banyaknya siswa yang nilai hasil belajarnya kurang mencapai nilai
kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan. Adapun perolehan nilai
tersebut seperti tertuang pada tabel berikut.
Tabel 2
Perolehan Nilai Hasil Belajar Siswa pada Siklus I
No.
|
Subjek
|
Nilai
|
Keterangan
|
1
|
Subjek 01
|
51
|
Kurang dari KKM
|
2
|
Subjek 02
|
55
|
Kurang dari KKM
|
3
|
Subjek 03
|
54
|
Kurang dari KKM
|
4
|
Subjek 04
|
63
|
Mencapai KKM
|
5
|
Subjek 05
|
57
|
Kurang dari KKM
|
6
|
Subjek 06
|
54
|
Kurang dari KKM
|
7
|
Subjek 07
|
58
|
Kurang dari KKM
|
8
|
Subjek 08
|
59
|
Kurang dari KKM
|
9
|
Subjek 09
|
67
|
Mencapai KKM
|
10
|
Subjek 10
|
66
|
Mencapai KKM
|
11
|
Subjek 11
|
52
|
Kurang dari KKM
|
12
|
Subjek 12
|
55
|
Kurang dari KKM
|
13
|
Subjek 13
|
56
|
Kurang dari KKM
|
14
|
Subjek 14
|
58
|
Kurang dari KKM
|
15
|
Subjek 15
|
58
|
Kurang dari KKM
|
16
|
Subjek 16
|
59
|
Kurang dari KKM
|
17
|
Subjek 17
|
53
|
Kurang dari KKM
|
18
|
Subjek 18
|
51
|
Kurang dari KKM
|
19
|
Subjek 19
|
68
|
Mencapai KKM
|
20
|
Subjek 20
|
70
|
Mencapai KKM
|
21
|
Subjek 21
|
71
|
Mencapai KKM
|
22
|
Subjek 22
|
54
|
Kurang dari KKM
|
23
|
Subjek 23
|
55
|
Kurang dari KKM
|
24
|
Subjek 24
|
68
|
Mencapai KKM
|
25
|
Subjek 25
|
69
|
Mencapai KKM
|
26
|
Subjek 26
|
58
|
Kurang dari KKM
|
27
|
Subjek 27
|
59
|
Kurang dari KKM
|
28
|
Subjek 28
|
55
|
Kurang dari KKM
|
29
|
Subjek 29
|
52
|
Kurang dari KKM
|
30
|
Subjek 30
|
67
|
Mencapai KKM
|
31
|
Subjek 31
|
69
|
Mencapai KKM
|
Untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalanpembelajaran
menulis puisi berdasarkan langkah-langkah metode
kolaboratif siklus I, tim peneliti telah melakukan refleksi, yang hasilnya sebagai berikut.
1)
Guru belum terbiasa
menciptakan suasana pembelajaran menulis
puisi berdasarkan langkah-langkah metode kolaboratif.
Hal ini dapat diketahui dari
hasil observasi terhadap aktivitas guru dalam mengelola proses pembelajaran.
2)
Sebagian siswa belum
terbiasa dengan kondisi belajar menulis
puisi berdasarkan langkah-langkah metode kolaboratif.
Mereka merasa senang dan antusias dalam belajar. Hal ini bisa dilihat dari
hasil observasi terhadap aktivitas siswa yang
menunjukkan sebagian besar siswa kurang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan
menyenangkan.
3)
Hasil evaluasi siklus I menunjukkan sebagian besar siswa kurang mampu mencapai
nilai KKM yang telah ditetapkan.
Untuk memperbaiki kelemahan dan
mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai pada siklus I, maka pada pelaksanaan
pembelajaranmenulis puisi yang disajikan
dengan menggunakan metode kolaboratif di siklus IIdapat dibuat
perencanaan sebagai berikut.
1)
Memberikan motivasi
kepada siswa untuk belajar lebih baik dan bersungguh-sungguh
dalam memenuhi setiap tuntutan pembelajaran.
2)
Secara intensif
membimbing siswa yang
mengalami kesulitan.
3)
Memberi penghargaan kepada siswa yang mencapai tarap belajar dan hasil
yang diinginkan.
2.
Deskripsi Siklus II
Pembelajaran
menulis puisi yang disajikan dengan menggunakan metode
kolaboratif padasiklus
II, sudah dilaksanakan sesuai dengan rencana. Adapun
hasilnya menunjukkan sebagai berikut.
1)
Suasana pembelajaran menulis puisi sudah mengarah
pada proses belajar berdasarkan langkah-langkah metode kolaboratif. Tugas yang diberikan guru kepada masing-masing dapat dikerjakan
dengan baik. Hal ini ditunjukkan oleh
perilaku yang diharapan, seperti ketua kelompok sudah mampu memimpin jalannya
diskusi, antarsiswa dalam kelompok yang sudah dibentuk mampu memerankan
tugasnya dengan cukup baik, dan antarkelompok berkompetisi dengan baik.
2)
Efektivitas
waktu dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang kompetitif dalam penyelesaian
tugas.
3)
Kualitas hasil
tugas cukup memenuhi tuntutan.
4)
Sedikit siswa
yang mengalami kendala, terkait dengan pemahamannya terhadap setiap tuntutan
menulis puisi dan langkah-langkah belajar secara kolaboratif.
Kondisi seperti
di atas diperkuat oleh penilaian kedua orang pengamat, yang dituangkan pada
tabel berikut.
Tabel 3
Perolehan Nilai Aktivitas Belajar Siswapada Siklus II
No.
|
Subjek
|
Indikator
Aktivitas Belajar
|
||||
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
||
1
|
Subjek 01
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
Subjek 02
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
3
|
Subjek 03
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
4
|
Subjek 04
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
5
|
Subjek 05
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
6
|
Subjek 06
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
7
|
Subjek 07
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
8
|
Subjek 08
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
9
|
Subjek 09
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
10
|
Subjek 10
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
11
|
Subjek 11
|
2
|
2
|
2
|
1
|
1
|
12
|
Subjek 12
|
2
|
2
|
2
|
1
|
1
|
13
|
Subjek 13
|
3
|
3
|
2
|
2
|
3
|
14
|
Subjek 14
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
15
|
Subjek 15
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
16
|
Subjek 16
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
17
|
Subjek 17
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
18
|
Subjek 18
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
19
|
Subjek 19
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
20
|
Subjek 20
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
21
|
Subjek 21
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
22
|
Subjek 22
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
23
|
Subjek 23
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
24
|
Subjek 24
|
2
|
2
|
2
|
1
|
1
|
25
|
Subjek 25
|
2
|
2
|
2
|
1
|
1
|
26
|
Subjek 26
|
3
|
3
|
2
|
2
|
3
|
27
|
Subjek 27
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
28
|
Subjek 28
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
29
|
Subjek 29
|
2
|
2
|
1
|
1
|
1
|
30
|
Subjek 30
|
3
|
3
|
3
|
2
|
3
|
31
|
Subjek 31
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
Keterangan:
A. Aktif
B. Kreatif
C. Inovatif
D. Efektif
E. Menyenangkan
1.
Kurang
2.
Cukup
3. Baik
Berdasarkan
pengamatan dan evaluasi siklus II, menunjukkan perubahan
yang lebih baik dari siklus I.
Jelasnya mengenai hal itu, sebagai berikut.
1) Hasil
pengamatan terhadap aktivitas
siswa dalam PBM selama siklus II
dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel
2
Perolehan Skor Aktivitas Belajar Siswa dalamPBM Siklus
II
Kelompok
|
Skor
Perolehan
|
Skor
Ideal
|
Persentase
|
Keterangan
|
Kelompok 1
|
12
|
16
|
75
|
|
Kelompok 2
|
13
|
16
|
81
|
|
Kelompok 3
|
14
|
16
|
88
|
Tertinggi
|
Kelompok 4
|
11
|
16
|
69
|
|
Kelompok 5
|
10
|
16
|
63
|
Terendah
|
Kelompok 6
|
11
|
16
|
69
|
|
Kelompok 7
|
12
|
16
|
75
|
|
Kelompok 8
|
13
|
16
|
75
|
|
Rerata
|
12
|
16
|
74
|
|
Grafik 2
Perolehan Skor Aktivitas Belajar Siswa dalam PBM
Siklus II

2)
Hasil observasi aktivitas
mengajar guru dalam PBM pada
siklus II tergolong sedang. Hal
ini berarti mengalami perbaikan dari siklus I.
Dari skor ideal 44, nilai yang diperoleh adalah 35 atau 80%.
3)
Hasil evaluasi
penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran pada siklus II tergolong sedang,
yakni dari nilai skor ideal 100 nilai rerata skor perolehan adalah 70 atau 70%.
4)
Hasil evaluasi siklus II mengalami peningkatan
yang sebelumnya 5,48 menjadi 6,53. Ini berarti naik 1,05.
Untuk mengetahui keberhasilan dan
kegagalan pembelajaran menulis puisi yang disajikan dengan menggunakan metode
kolaboratif pada siklus II, maka tim peneliti melakukan refleksi, yang hasilnya sebagai berikut.
1)
Aktivitas belajar siswa dalam PBM siklus II sudah mengarah ke
langkah-langkah belajar
berdasarkan metode kolaboratif. Siswa mampu membangun
kerja sama dalam kelompok untuk memahami tugas yang diberikan guru. Siswa mulai
mampu berpartisipasi dalam kegiatan dan tepat waktu dalam melaksanakannya.
Siswa mulai mampu mempresentasikan hasil kerja dengan baik. Hal ini dapat
dilihat dari data hasil observasi terhadap aktivitas siswa meningkat dari 69%
pada siklus 1 menjadi 74% pada siklus II.
2)
Meningkatnya aktivitas
siswa dalam PBM didukung oleh meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan
dan meningkatkan suasana pembelajaran yang mengarah pada langkah-langkah metode kolaboratif.
Guru secara intensif membimbing siswa saat mengalami kesulitan dalam PBM. Hal
ini dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas guru dalam PBM meningkat dari
61,36% pada siklus 1 menjadi 80% pada siklus II.
3)
Meningkatnya aktivitas
siswa dalam melaksanakan evaluasi berdampak pada meningkatnya kemampuan siswa
dalam menguasai materi pembelajaran. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi diperoleh 6,20 pada siklus I meningkat menjadi 7,00
pada siklus II.
4)
Meningkatnya rata-rata
nilai hasil evaluasi pada siklus II menjadi 6,53.
5)
Masih terdapat
beberapa orang siswa yang dinyatakan belum tuntas, karena hasil evaluasinya
kurang mencapai nilai yang telah ditetapkan sebagai kriteria ketuntasan minimal
(KKM). Oleh karena itu, maka dilaksanakan pembelajaranmenulis puisi berdasarkan langkah-langkah
metode kolaboratif pada siklus
III.
3.
DeskripsiSiklus III
Pembelajaran
menulis puisi yang disajikan dengan menggunakan metode
kolaboratif pada siklus III, sudah dilaksanakan sesuai dengan rencana serta berhasil
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.Adapun hasilnya menunjukkan
sebagai berikut.
1)
Suasana pembelajaran menulis puisi sudah lebih
mengarah pada langkah-langkah metode
kolaboratif. Tugas yang diberikan guru kepada
kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik mampu dikerjakan dengan lebih
baik lagi. Siswa dalam satu kelompok menunjukkan saling membantu untuk
menguasai materi pelajaran yang telah diberikan melalui tanya jawab atau
diskusi antarsesama anggota kelompok. Siswa kelihatan lebih antusias mengikuti
PBM.
2)
Hampir semua siswa
merasa termotivasi untuk bertanya dan menanggapi suatu presentasi dari kelompok
lain.
3)
Suasana pembelajaran
yang efektif dan menyenangkan sudah lebih tercipta.
Berdasarkan pengamatan dan
evaluasi siklus III, hasilnya menunjukkan sebagai berikut.
1)
Hasil pengamatan terhadap aktivitas
belajar siswa selama mengikuti PBM
siklus III seperti tertuang pada tabel
berikut.
Tabel 3
Perolehan Skor Aktivitas Belajar Siswa dalam PBM
Siklus III
Kelompok
|
Skor
Perolehan
|
Skor
Ideal
|
Persentase
|
Keterangan
|
Kelompok 1
|
14
|
16
|
88
|
|
Kelompok 2
|
14
|
16
|
88
|
|
Kelompok 3
|
15
|
16
|
94
|
Tertinggi
|
Kelompok 4
|
13
|
16
|
81
|
|
Kelompok 5
|
12
|
16
|
75
|
Terendah
|
Kelompok 6
|
13
|
16
|
81
|
|
Kelompok 7
|
14
|
16
|
88
|
|
Kelompok 8
|
14
|
16
|
88
|
|
Rerata
|
12
|
16
|
85
|
|
Grafik 3
Perolehan
Skor Aktivitas Belajar Siswa dalam PBM Siklus III

2)
Hasil pengamatan aktivitas mengajar guru dalam PBM siklus III mendapat rerata nilai
perolehan 40 dari skor ideal 44 atau 91%. Hal ini berarti menunjukkan adanya
peningkatan yang sangat signifikan
dari siklus sebelumnya.
3)
Hasil evaluasi siklus III menunjukkan penguasaan siswa
terhadap materi pembelajaran memiliki nilai rerata 85 atau 85% dari skor ideal
100. Hal ini berarti penguasaan
siswa terhadap materi pembelajaran tergolong tinggi.
4)
Hasil evaluasi siklus III mengalami
peningkatan yang cukup berarti, yakni 7,60, sedangkan sebelumnya 5,48 pada
siklus I dan pada siklus II 6,53.
Untuk mengetahui keberhasilan dan
kegagalan pembelajaran menulis puisi berdasarkan langkah-langkah
metode kolaboratif pada siklus
III, tim peneliti telah melaksanakan refleksi, yang
hasilnya menunjukkan sebagai berikut.
1)
Aktivitas belajar siswa dalam PBM siklus III sudah mengarah ke
langkah-langkah metode
kolaboratif.
Siswa mampu membangun kerja sama dalam kelompok untuk memahami tugas
yang diberikan guru. Siswa mulai mampu berpartisipasi dalam kegiatan dan tepat
waktu dalam melaksanakannya. Siswa mulai mampu mempresentasikan hasil kerja.
Hal ini dapat dilihat dari data hasil observasi terhadap aktivitas siswa
meningkat dari 74% pada siklus II
menjadi 85% pada siklus III.
2)
Meningkatnya aktivitas belajar siswa dalam PBM siklus III didukung oleh
meningkatnya aktivitas mengajar guru, baik dalam mempertahankan
dan meningkatkan suasana pembelajaran yang mengarah pada langkah-langkah metode kolaboratif.
Guru secara intensif membimbing
siswa, terutama saat siswa mengalami kesulitan dalam PBM dapat dilihat dari
hasil observasi aktivitas guru dalam PBM meningkat dari 80% pada siklus II menjadi 91% pada
siklus III.
3)
Meningkatnya aktivitas belajar siswa dalam
melaksanakan evaluasi berkontribusi terhadap meningkatnya kemampuan siswa dalam
menguasai materi pembelajaran. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi 7,00 pada
siklus II meningkat menjadi 8,50
pada siklus III.
4)
Meningkatnya rata-rata
nilai evaluasi dari 5,48 (siklus I) menjadi 6,53 (siklus II) dan 7,33 (siklus III).
5)
Seluruh siswa
mencapai kriteria ketuntasan minimal, sehingga PTK berakhir sampai siklus III.
b. Pembahasan
Setelah mendeskripsikan
data hasil penelitian tindakan kelas
dalam pembelajaran menulis
puisi yang disajikan dengan menggunakan metode kolaboratif yang
berlangsung dalam tiga siklus ini, langkah berikutnya adalah melakukan
pembahasan, agar dapat diketahui kebermaknaan
dari hasil penelitian ini.
Upaya meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa Kelas III SD Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamismelalui penggunaan metode
kolaboratif telah dilakukan guru secara kolaborasi
dengan tim peneliti yang telah dibentuk. Upaya
ini telah ditempuh dalam tiga siklus.Setiap siklusnya
menempuh empat tahapan lazimnya penelitian tindakan kelas, antara lain: (1)
perencanaan (planning) tindakan; (2)
pelaksanaan tindakan (acting) sesuai
dengan rencana; (3) pengamatan (observing)
terhadap proses tindakan; dan (4) refleksi (reflecting).Setelah membahas hasilnya, diperoleh gambaran sebagai
berikut.
1.
Aktivitas
belajar siswa Kelas III SD Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamis dalam pembelajaran menulis puisi yang disajikan dengan menggunakan metode
kolaboratif, secara bertahap mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.
2.
Hasil belajar siswa
Kelas III SD Negeri 1 Mekarsari,
Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamis dalam pembelajaran menulis puisi yang disajikan
dengan menggunakan metode kolaboratif secara bertahap mengalami peningkatan ke
arah yang lebih baik, hingga pada siklus III seluruh siswa dinyatakan mencapai
kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan untuk mata pelajaran
ini. Meningkatnya hasil belajar siswa Kelas III SD
Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamis terjadi karena aktivitas belajarnya mengalami perbaikan ke arah yang diinginkan.
3.
Adanya perubahan
aktivitas dan hasil belajar siswa Kelas III SD
Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamis disebabkan oleh perlakuan yang diupayakan guru
mengenai sasaran. Perlakuan dimaksud, yaitu metode kolaboratif.
H.
Simpulan dan Saran
a.
Simpulan
Simpulan yang dapat diambil
setelah melaksanakan serangkaian kegiatan penelitian dan membahas hasilnya,
yaitu yaitu sebagai berikut.
1.
Penggunaan metode kolaboratif dapat meningkatkan
aktivitas belajar siswa Kelas III SD Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamis dalam pembelajaran menulis puisi bebas.
2.
Penggunaan metode kolaboratif dapat meningkatkan hasil belajar siswa
Kelas III SD Negeri 1 Mekarsari,
Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamisdalam pembelajaran menulis puisi bebas.
b.
Saran dan Tindak
Lanjut
Setelah terbukti bahwa metode
kolaboratif dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa
Kelas III SD Negeri 1 Mekarsari,
Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamisdalam pembelajaran menulis puisi, maka diajukan
saran dan upaya tindak lanjut sebagai
berikut.
1.
Metode kolaboratif, sebaiknya diterapkan dengan
mempertimbangkan konteks permasalahan, agar terjadi suatu kondisi yang
diharapkan. Penggunaan metode kolaboratif pada siswa yang menjadi subjek
penelitian ini, telah membawa perubahan ke arah aktivitas dan hasil belajar
yang diharapkan dalam pembelajaran menulis puisi bebas. Untuk membuktikan hal
itu, sebaiknya guru mencoba menerapkan metode ini kepada para siswanya dalam
konteks pembelajaran yang sama.

2.
Hal-hal yang
harus ditindaklanjuti agar diperoleh hasil yang lebih baik, yakni dalam
pemberian bimbingan kepada siswa terkait dengan belajar dalam kelompok, agar
antarsiswa dapat terjadi saling belajar, saling memberi dan menerima masukan
yang positif, dan saling menghargai sudut pandang. Hal itulah yang dianggap
masih perlu ditingkatkan pada siswa yang menjadi subjek penelitian ini.
I.
Daftar
Pustaka
Akhadiah, Sabarti. 2002. Pembinaan
Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Alwasilah,
A. Chaedar dan Senny Suzanna Alwasilah. (2007). Pokoknya Menulis. Bandung:
PT. Kiblat Buku Utama.
Anshori,
Dadang S dan Khaerudin Kurniawan. 2005. Bahasa Jurnalistik. Bandung:
Pusat Studi Literasi.
Arikunto,
Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Bumi Aksara.
BSNP. 2006. Silabus Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia SMP. Jakarta : Depdiknas.
Djuraid,
Husnun N. 2009. Panduan Menulis Berita. Malang: Universitas Muhammadiyah
Malang.
Hermawan, Asep. 2007. Pengembangan Profesi Guru Melalui Tindakan
Reflektif dan Aplikatif Diri Menjadi Peneliti Mahir dalam Penelitian Tindakan
Kelas. Makalah: Tidak Dipublikasikan.
----------------------.
2007.
Strategi Peningkatan Kinerja Guru dalam
Mengelola Pembelajaran Melalui Penelitian Tindakan Kelas Secara Profesional dan
Bermutu. Makalah: Tidak Dipublikasikan.
Iskandarwassid dan Sunendar, Dadang. 2010. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung : Rosda Karya.
Mulyasa, E. 2008. Implementasi
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Martinis Yamin. 2007. Model
Pembelajaran Konstruktivisme. Bandung : Alfabeta.
Nurgiyantoro,
Burhan. 2007. Penilaian Pembelajaran
Berorientasi Kompetensi Berbahasa. Yogyakarta: BPFE.
Nurhadi. 2003. Pendekatan
Kontekstual(Contextual Teaching and Learning (CTL)). Jakarta :
Depdiknas.
Rosidi, Imron.
2009. Menulis... Siapa Takut?. Yogyakarta: Kanisius.
Santana K, Septiawan. 2005. Jurnalisme
Kontemporer. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Sugihastuti. 2005. Penggunaan
Bahasa dalam Karya Tulis Ilmiah. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada
Press.
Suriamiharja, Agus, dkk.
1996. Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Tarigan, H.G.
1997. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan
Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Pedoman Penyusunan Usulan dan Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas
oleh TIM Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra, FKIP, Universitas
Galuh Ciamis.
.
Langganan:
Postingan (Atom)